Cekcok Terburuk Antar Pemain Satu Klub di Liga Inggris

Cekcok Terburuk Antar Pemain Satu Klub di Liga Inggris
Cekcok Terburuk Antar Pemain Satu Klub di Liga Inggris

Ternyata berada dalam satu tim, tidak menjamin keharmonisan antar pemainnya. Selain memperkeruh suasana klub, cekcok juga bisa mengkompori pemain lain untuk ikut terlarut pada kericuhan. Hal ini pun terjadi pula pada klub-klub di Liga Inggris.

Berikut ini adalah daftar cekcok terburuk antar pemain seklub yang terjadi di Liga Inggris

9. Emmanuel Adebayor kontra Kolo Toure di Manchester City

2 pemain yang sama-sama pernah berseragamkan Arsenal ini sempat kedapatan berkelahi. Pada saat itu, baik Emmanuel Adebayor dan Kolo Toure tiba-tiba emosi dan keduanya langsung terlibat baku hantam. Insiden tersebut terjadi kala Man City tengah menggelar sesi latihan persiapan melawan bekas klub mereka. Adapun latihan yang dilakoni, sama sekali tidak melibatkan kontak fisik antar sesama pemain. Ketegangan agak mereda, kala pemain lain melerai Adebayor dan Toure.

Namun demikian, belakangan tercium kalau Adebayor dinilai sebagai biang masalah. Saat masih bercokol di Emirates Stadium, striker 33 tahun itu juga sering berseteru dengan bekas rekan seklubnya. Diantaranya adalah dengan Robin Van Persie dan Nicklas Bendtner.

8. Mario Balotelli kontra Aleksandar Kolarov di Manchester City

Rasanya para pencinta sepakbola juga sudah tahu, kalau Mario Balotelli adalah pemain yang terkenal tukang bikin ribut dan acapkali bersikap kekanak-kanakan.

4 tahun silam, gelandang kelahiran Italia 27 tahun lalu itu sempat terlibat perkelahian dengan rekan seklubnya di Manchester United, Alexander Kolarov. Masalahnya berawal dari berebut jadi eksekutor tendangan bebas. Alih-alih, sang kapten tim Vincent Kompany turun tangan untuk meredakan ketegangan antar kedua rekannya itu.

Kendati begitu, Balotelli dinilai publik telah menjadi pribadi yang lebih matang saat ini.

7. Emmanuel Adebayor kontra Nicklas Bendtner di Arsenal

Inilah insiden yang sempat dibicarakan sebelumnya. Yakni, saat Emmanuel Adebayor masih bermain untuk Arsenal. Karena Adebayor dan Nicklas Bendtner bukan cuma sekali dua kali membuat gaduh di klub, The Gunners memutuskan untuk mendepak kedua juru gedor tersebut. Apalagi keributan terakhir keduanya, berbuntut pada kekalahan Arsenal atas Tottenham Hotspurs pada fase semi final Piala Carling.

6. Ricardo Fuller kontra Andy Griffin di Stoke City

Kesal dengan kepemimpinan kapten tim, Andy Griffin saat melawan West Ham United pada laga lanjutan Liga Premier musim 2008 – 2009, membuat Ricardo Fuller berinisiatif untuk melampiaskan emosinya. Griffin yang juga merupakan bek di Stoke City, dinilai tidak becus memagari penetrasi lini serang Stoke. Hingga pada saat menjelang sesi turun minum, Fuller langsung menyambangi Griffin dan menaboknya dengan keras.

Akibat dari perbuatannya, Fuller sontak dikartu merah dan diskors selama 3 laga. Bomber asal Jamaica itu juga dibebankan untuk membayar denda sebesar 20,000 Pound oleh klubnya, lantaran dianggap menghambat laju klub.

5. Steve McManaman kontra Bruce Grobbelaar di Liverpool

Bruce Grobbelaar memang terkenal sebagai pemain yang emosian. Pada laga derby Merseyside di tahun 1993, blunder Steve McManaman bermuara pada kreasi gol Everton. Menyaksikan hal tersebut, Grobbelaar yang ngamuk langsung menjotos McManaman.

4. Graeme Le Saux kontra David Batty di Blackburn Rovers

Stres akibat performa buruk klub di Liga Champion musim 1995, membuat 2 pemain yang tempramental tersebut terlibat cekcok. Insiden bermula saat keduanya sama-sama menghampiri si kulit bundar. Keduanya malah berusaha menabrak satu sama lain untuk berebut mendribel bola. Ujung-ujungnya, Graeme Le Saux dan David Batty malah terlibat aksi adu jotos. Untungnya Tim Sherwwod langsung melerai keduanya, sebelum wasit menodong sanksi yang bisa jadi amat merugikan klub.

3. John Arne Riise kontra Craig Bellamy di Liverpool

Kala itu, Liverpool sedang bermukim di Portugal untuk berlaga di kancah Liga Champion kontra Barcelona. Para pemain yang diberikan jatah waktu bebas selepas latihan, memutuskan untuk pergi ke karaoke sambil menenggak minuman keras.

Saat berkaraoke bersama, Craig Bellamy yang sudah setengah mabuk menyetel sebuah lagu dan memaksa John Arne Riise untuk menyanyikannya. Riise yang emoh untuk menuruti kemauan rekannya itu, menimpali dengan kata-kata yang menyulut sumbu emosi Bellamy. Sontak, Bellamy langsung mengambil stik golf dan memukulkannya ke Riise. Hebatnya, The Reds pada akhirnya bisa memenangkan laga melawan Barca dengan skor 2 – 1. Adapun kedua pemain yang sempat terlibat kontak fisik tersebut menjadi donatur yang menuntun Liverpool menuju kemenangan.

2. Jermaine Beckford kontra Eoin Doyle di Preston North End

Cekcok klub Liga Inggris ini terjadi Saat Preston North End berhadapan dengan Sheffield Wednesday. Beckford yang tidak pernah dibagi bola setiap meminta Doyle untuk mengopernya, langsung terstimulasi amarahnya. Beckford lantas menghampiri Doyle dan mendorongnya dengan keras. Pada akhirnya, wasit memutuskan untuk mengeluarkan kedua pemain tersebut dengan todongan kartu merah.

1. Kieron Dyer kontra Lee Bowyer di Newcastle United

Keributan antara Kieron Dyer dan Lee Bowyer yang sampai membuat keduanya saling mencekik leher lawan masing-masing, benar-benar membuat kerugian besar bagi klubnya sendiri saat merumput di laga lanjutan Liga Inggris melawan Aston Villa. Pasalnya wasit yang terpaksa mengeluarkan salah satu dari mereka lewat kartu merah, berujung pada berkurangnya jumlah anggota squad yang tinggal 10 pemain saja. Adapun Newcastle pada akhirnya harus melambaikan bendera putih 0 – 3 atas Aston Villa.

The Blues Resmi Tambah Pemain Baru Kedua di Musim Panas Ini

The Blues Resmi Tambah Pemain Baru Kedua di Musim Panas Ini
The Blues Resmi Tambah Pemain Baru Kedua di Musim Panas Ini

Belakangan beredar informasi, kalau Chelsea baru saja resmi menambah pemain baru keduanya di musim panas tahun ini (2017). Pemain tersebut adalah bek yang dulunya membela AS Roma, Antonio Ruediger.

“Dengan ini Chelsea FC mengumumkan kegembiraan kepada para fans. Bahwa kami telah resmi merekrut Antonio Ruediger yang dulu bermain di Roma. Semua proses administrasi terkait transfer Antonio, sudah kami rampungkan”, papar Chelsea lewat laman resmi mereka.

Belum diketahui berapa uang mahar yang digelontorkan The Blues, untuk meminang pesepakbola yang juga bermain di timnas Jerman itu. Namun begitu, Ruediger sendiri acapkali mengatakan kalau Chelsea menebusnya dengan nominal transfer sebesar 34,000,000 Pounds.

Pemain berumur 24 tahun itu sendiri diikat kontrak oleh Si Biru selama 5 tahun. Tepatnya, kontrak kerja Ruediger di Stamford Bridge baru akan tuntas pada tahun 2022.

Disisi lain, Ruediger sendiri mengaku punya kebanggaan sendiri karena dipikat Chelsea.

“Ini merupakan kesempatan emas untuk naik level di karir sepakbola saya. Belum tentu semua pesepakbola mendapat kesempatan yang berharga seperti yang saya dapatkan. Untuk itu, saya tidak akan menyia-nyiakannya dan akan mempersembahkan yang terbaik untuk Chelsea”, aku Ruediger kepada Mirror.

Di Roma sendiri, Ruediger dianggap sebagai bek andalan mereka. Dalam 36 kesempatan bertanding di berbagai ajang bersama Roma, Ruediger pun juga pernah menyumbang gol sekali. Selebihnya, ia dicatat juga melesatkan 4 assist. Saat ia mengawal lini belakang Roma, Roma pun tercatat sebagai klub dengan angka kebobolan terendah nomor 2 di Serie A. Yakni, hanya jebol sebanyak 38 kali. Selain berprestasi impresif di liga domestik Italia, dirinya juga ikut memperkuat timnasnya menjuarai Piala Konfederasi 2017.

“Dari pengalaman bermain di klub sebelumnya, saya rasa Antonio akan cocok bermain dengan pola kami. Yaitu, pola 4 – 4 – 3. Itupun saya lihat Antonio adalah bek yang fleksibel dan tidak susah beradaptasi dengan perubahan pola. Mengingat Antonio Conte bisa mendadak merubah pola, sesuai dengan kebutuhan. Antonio adalah pemain yang saya percaya sudah teruji. Sangat pas buat Chelsea”, terang Michael Emenalo selaku Direktur Teknik Si Biru.

“Dengan datangnya Antonio, pertahanan kami bakal lebih sulit ditembus”, sambung Emenalo.

“Pokoknya, keputusan kami mendatangkan Antonio betul-betul keputusan yang paling tepat”, tuntas mantan bek asal Nigeria itu.

Silva Mau Main Terus? Masih Kuat Ga?

Silva Mau Main Terus? Masih Kuat Ga?
Silva Mau Main Terus? Masih Kuat Ga?

Sebagai atlit, David Silva memang sudah memasuki usia senior. Namun begitu, gelandang berumur 31 tahun itu berkomitmen untuk tetap main dan membela klubnya, Manchester City asalkan fisiknya masih kuat.

Sebelumnya, Silva diangkut The Citizen 7 tahun lalu (2017) dari Valencia. Keputusan City membeli Silva pun sama sekali tidak salah, lantaran prestasi Silva terus melonjak sejak berjersey City.

Banyak titel berhasil disabet City saat Silva ikut turun tangan membelanya. Diantaranya adalah 2 kali juara Liga Premier, 1 kali juara Piala FA, dan 2 kali juara Liga Inggris. Selama merumput 296 kali bersama City di semua ajang, Silva sudah mempersembahkan 51 gol buat klubnya.

Disaat memasuki usia uzur sebagai atlit, rasa cinta Silva kepada klubnya pun tak surut. Penggawa timnas Spanyol itu justru malah berharap kalau durasi kontraknya masih bisa diperpanjang, usai kontraknya yang sekarang hingga tahun 2019 berakhir.

Tapi disisi lain, ia juga sadar kalau fisik dan umur tidak bakal berbohong. Dimana, kompetisi Liga Premier memiliki persaingan yang sangat ketat. Pesepakbola yang loyo bak ayam sayur tidak bakal bertahan dan akan tergilas dengan sendirinya. Silva sendiri bisa dibilang awet bertahan di Liga Premier, karena ia sangat menjaga kondisi fisiknya. Ia termasuk pemain yang bisa dibilang hampir tidak pernah didera cidera parah saat bersama City.

Berdasarkan catatan yang dimiliki Transfermarket, Silva cuma pernah vakum selama 45 hari pada musim lalu. Saat itu, ia mendapat cidera ankle yang sangat parah.

“Kalau dibilang saya adalah pemain yang selalu siap siaga untuk City, ya saya tegaskan itu sangat benar. Saya sangat mencintai klub saya. Saya betul-betul kerasan dan mau bisa bermain selama mungkin disini”, ujar Silva saat disambangi wartawan.

“Cuma ya saya sadar. Masa atlit itu ada batasnya. Kalau saya sudah merasa tidak kuat, itu berarti saatnya saya harus gantung sepatu. Namun kalau saya masih merasa kuat, saya akan terus main disini (City)”, lanjutnya lagi.

“Liga Premier adalah kompetisi yang benar-benar berbeda dari kompetisi lainnya. Tidak seperti saat saya bermain di La Liga, Liga Premier menuntut fisik yang sangat prima”, tuntas Silva.